Bacaan Injil


JUMAT


JUMAT
19 Januari 2018
Pekan Biasa II (H)
St. Marius; St. Gerlakus; St. Gottfrid; Yakobus Sales, dan Wilhelmus Saultemouche

Bacaan I: 1 Sam. 24:3-21
Mazmur: Mzm. 57:2.3-4.6.11; R:2a
Bacaan Injil:  Mrk. 3:13-19

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Renungan
Panggilan seseorang untuk mengikuti rancangan Tuhan sering kali lahir dari kehendak Tuhan sendiri. Ia sendirilah yang memilih orang-orang uang dikehendaki-Nya. Namun, manusia pun memiliki kebebasan untuk mengatakan ‘ya’ atau menjawab ‘tidak’ atas tawaran panggilan dari Allah. Sebab, panggilan dari Allah tak pernah berarti sebuah pemaksaan.
Tuhan pun memilih Daud dari antara saudara-saudaranya. Sosok terpilih ini menjadi perpanjangan tangan Allah dalam penggembalaan bangsa Israel agar tetap setia kepada Allah. Tindakan yang serupa dilakukan oleh Yesus. Dia memanggil dua belas orang yang dikehendaki-Nya sebagai murid-murid-Nya. Hal yang menarik ialah bahwa baik Daud maupun murid-murid Yesus berani menjawab ‘Ya’ atas tawaran panggilan dari Allah. Mereka pun ikut ambil bagian dalam karya pewartaan yang direncanakan Tuhan.
Secara khusus para murid menerima mandat untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Mereka menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam mewartakan kabar gembira kepada semua orang terutama kepada mereka yang terpinggirkan. Yesus juga memberi mereka kuasa untuk mengusir setan. Para murid dipersenjatai-Nya dengan kekuatan Allah. Mereka dimampukan untuk mengalahkan setan-setan sehingga semakin banyak orang akan mengalami kedamaian.
Sesungguhnya, melalui Sakramen Baptis, kita pun telah dipanggil dan dipilih oleh Allah sebagai murid-murid-Nya. Kita menerima tugas untuk mewartakan kabar gembira. Kita juga dinaungi Roh Kudus agar mampu menghalau kekuatan jahat.

Doa
Ya Bapa, jadikanlah aku sebagai alat-Mu sehingga warta sukacita-Mu semakin dirasakan oleh banyak orang. Amin.

 

SABTU


SABTU
20 Januari 2018
Pekan Biasa II (H)
St. Fabianus, Paus Mrt; St. Sebastianus; St. Eutimos; B. Angelo Paoli.

Bacaan I: 2Sam. 1:1-4.11-12.19.23-27
Mazmur: Mzm. 80:2-3.5-7; R:4b
Bacaan Injil:  Mrk. 3:20-21


Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Renungan
Perbuatan baik tidak selamanya menuai pujian dan penerimaan. Malah ada kalanya yang terjadi adalah sebaliknya. Perbuatan baik menimbulkan perbantahan, kecurigaan, kecemburuan, atau kebencian terhadap pelakunya. Ironisnya lagim respon negatif itu bukan saja datang dari orang yang tidak simpatik dengan pelakunya, namun justru datang dari orang-orang dekatnya.
Hal yang sama terjadi pada diri Yesus. Segala pengajaran dan mukjizat Yesus selalu mengundang kekaguman banyak orang juga melahirkan cibiran dan kecurigaan. Ada orang yang menganggap-Nya tidak waras, bahkan ahli-ahli Taurat dari Yerusalem pun berkata: “Ia kerasukan Beelzebul. Dengan penghulu setan, Ia mengusir setan.”
Yesus benar-benar pribadi yang memiliki integritas kuat. Ia berbuat baik kepada siapa pun bukan didorong oleh harapan akan pujian dan sanjungan. Ia tidak haus pujian. Ia hanya melaksanakan titah Bapa-Nya. Karena itu, Ia sungguh-sungguh ikhlas melakukan kebaikan-kebaikan. Bahkan, ketika dianggap tidak waras, Yesus tak lekas menyerah. Ia masih mewartakan kabar sukacita perihal kerajaan surga.
Pasti kita juga mengalami hal yang sama ketika melakukan kebaikan sekali pun. Selalu saja ada orang-orang yang simpatik dan merasa jijik. Putus asa atau menyerahkah kita? Semoga kita tetap tabah dan semangat melakukan kebaikan. Marilah kita mencari perkenanan Tuhan, bukan pujian manusia.

Doa
Ya Bapa, di tengah zaman yang penuh tantangan berat ini, tabahkanlah dan semangatilah aku untuk selalu berbuat kebaikan seperti Yesus Putra-Mu. Amin.

 

MINGGU


MINGGU
21 Januari 2018
Pekan Biasa III (H)
Pw Sta. Agnes, Prw Mrt (M); St. Augurius dan Eulogius

Bacaan I: Yun. 3:1-5.10
Mazmur: Mzm. 25:4bc-5ab.6-7bc.8-9; R:4a
Bacaan II: 1Kor. 7: 29-31
Bacaan Injil:  Mrk. 1:14-20

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, katanya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Renungan
Haruskah orang berdosa binasa karena kesalahannya? Memang, buah dosa adalah kebinasaan. Akan tetapi, keselamatan bisa diraih oleh orang berdosa jika mereka melakukan pertobatan. Sebagaimana dikatakan oleh Santo Agustinus, “Tidak ada orang suci tanpa masa lalu, dan tak ada pendosa yang tanpa masa depan.”
Kitab Yunus mengisahkan murka Allah dan rencana-Nya untuk menghukum Niniwe karena dosa-dosanya. Kedosaan mereka telah mengingkari perjanjian mereka dengan Allah dan menutup jalan bagi masuknya rahmat Allah. Sebaliknya Allah murka terhadap mereka dan akan segera menunggangbalikkan kota yang sangat besar itu. Atas perintah Allah, Yunus ke Niniwe dan menyerukan pertobatan. Akhirnya orang-orang Niniwe percaya kepada Allah. Mereka mengumumkan puasa dan mengenakan kain kabung. Semuanya berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan kekerasan. Karena pertobatan ini, akhirnya Allah mengurungkan niat-Nya untuk menghukum Niniwe.
Ketika tampil di Galilea, Yesus pun menyerukan pertobatan dan iman akan Injil. Alasan-Nya karena Kerajaan Surga sudah dekat. Yesus mengajak jemaat-Nya untuk memusatkan perhatian kepada Allah; bukan semata-mata kepada istri (bagi suami), pada milik, atau barang belian. Siapa yang mendengarkan seruan Yesus ini akan masuk dalam Kerajaan Surga.

Doa
Ya Bapa, mampukanlah aku selalu untuk hidup dalam pertobatan yang terus-menerus dan dalam kasih yang utuh kepada-Mu dan sesamaku. Amin.